Dua minggu terakhir, saya mengajak mahasiswa di kelas untuk nonton film.

Ini adalah untuk mata kuliah Teknologi Digital 1 dan 2, di mana topik yang sedang dibahas adalah tentang penggunaan AI secara optimal dan beretika.

Berhubung pembahasan materi sudah selesai, (dan saya juga bingung mau mengisi apa lagi), akhirnya saya putuskan untuk mengisi kelas dengan menonton film sebagai pemantik dan inspirasi mereka.

Ada dua film yang ditonton:

  • AlphaGo (2017), dan
  • The Imitation Game (2014)

Dua-duanya adalah film yang berkaitan dengan AI di masa sekarang, baik secara langsung atau tidak langsung.

Film AlphaGo adalah film dokumenter yang menceritakan bagaimana program AlphaGo yang dikembangkan oleh tim Google Deepmind berhasil mengalahkan juara dunia di permainan Go. Sementara film The Imitation Game menceritakan tentang kisah Alan Turing dan tim dalam memecahkan mesin Enigma jerman, yang menjadi cikal bakal dari sistem komputer modern.

Dua-duanya film bagus.

Tapi masalahnya...

Untuk film AlphaGo, karena sifatnya film dokumenter, filmnya agak membosankan. Filmnya seru, tapi terlalu banyak fillernya, banyak sesi orang ngomongnya, sehingga akan jadi membosankan jika ditonton bersama-sama dalam kelas.

Sementara film The Imitation Game, meskipun filmnya sangat seru, tapi dia punya ending yang justru membuat off. Momen puncak filmnya terjadi di area 3/4 filmnya, sementara bagian akhir justru jadi merusak momen filmnya, karena di situ fokusnya adalah terkait dengan masalah pribadi Alan Turing, utamanya masalah hukum dan homoseksual.

Akibat ending itu, dari pengalaman nonton di tahun sebelumnya, yang diingat mahasiswa justru adalah bagian terakhir, dan itu menghilangkan keseruan dan tujuan utama dari sesi nonton film ini.

Jadilah untuk mengatasi dua masalah itu, saya menjadi lembaga sensor film dadakan.

Untuk AlphaGo, dari durasi sekitar 1,5 jam, saya memangkas filmnya hanya berdurasi kurang dari 1 jam.

Untuk The Imitation Game, dari durasi 2 jam, saya memangkas filmnya hanya berdurasi 1,5 jam.

Berkurang 30 menit masing-masing wkwkw.

Awalnya saya berniat hendak menggunakan Claude Code untuk membantu memotong filmnya. Idenya, Claude Code saya minta untuk membaca file subtitlenya terlebih dahulu, lalu menentukan bagian mana saja yang bisa dihapus. Setelah dia membuat daftar listnya, saya akan mengaprove daftar itu, dan dia akan mengeksekusi memotong filmnya di area itu beserta subtitle nya.

Tapi ternyata, hasil editnya masih kacau.

Jadilah pada akhirnya saya mengedit filmnya secara manual.

Saya rasa hasil editan film saya sudah oke. Karena ketika menonton, tidak ada yang merasa kalau filmnya sudah saya potong-potong.

Sukses!

Dan tidak hanya itu, setelah menonton filmnya di dalam kelas, sebenarnya saya merasa masih banyak lagi yang bisa dipotong.

Sepertinya untuk sesi nonton film selanjutnya untuk film2 ini, saya bisa memangkas sekitar 30 menitan lagi wkwk.