Beberapa waktu terakhir, saya membuat video pembahasan di YouTube tentang project-project luar angkasa yang dilakukan oleh NASA. Sebut saja Mars Climate Orbiter (1999), Artemis II (2026), dan yang terbaru tentang Hubble Space Telescope (1990).
Dalam setiap pembahasan tersebut, jika relevan, biasanya saya menyampaikan biaya pengembangan proyek tersebut. Utamanya untuk proyek gagal macam Mars Climate Orbiter, saya menyampaikan:
"Kegagalan misi ini membuat NASA mengalami kerugian biaya yang sangat besar, mencapai 327 juta USD saat itu, yang jika dikonversi dalam rupiah saat ini nilainya lebih dari 10,5 triliun."
Tentu saja saya menyampaikan angka itu dengan menekankan bahwa nilai itu adalah sebuah biaya yang sangat besar. Yang sayangnya harus hilang begitu saja karena sebuah kesalahan sepele.
Saya pun merasa angka Rp 10 triliun itu adalah sebuah angka yang besar.
Tapi... komentar-komentar yang ada di Youtube langsung membuat saya berpikir ulang.
"Alah, itu murah kok. Cuma 10 hari MBG!" "Harganya cuma 1/30 orbiter MBG"
Ehh?
Lah...
Iya juga ya wkwk.
Hal yang sama juga terjadi pada video kesalahan Hubble Telescope. Biaya pengembangan dari Hubble Space Telescope adalah 1,5 Miliar USD atau setara sekitar Rp 50 Triliun jika dikonversi ke nilai masa sekarang. Dan lagi-lagi, komentar teratas yang muncul adalah
"Ternyata bikin teleskop hubble tidak semahal itu, cuma setara 50 hari MBG"
Oemji...
Iya juga ya. Lagi-lagi saya berpikir ulang.
Semenjak adanya program MBG, orang bisa melihat nominal uang dengan cara yang berbeda.
Bukan lagi Rp 10 Triliun, tapi 10 hari biaya MBG.
Bukan lagi Rp 50 Triliun, melainkan 50 hari biaya MBG.
Dari sini saya pun jadi berpikir lagi:
Nah untuk pertanyaan yang terakhir... tentu saja jawabannya tidak. Tidak untuk sekarang.
Banyak orang yang mungkin merasa harusnya Indonesia bisa membuat proyek serupa jika alokasi dana 50 hari MBG tadi dialokasikan untuk proyek ini. Tapi tentu saja, membeli produk dan melakukan pengembangan produk adalah dua hal yang berbeda.
Anggapan bahwa dengan uang yang sama kita bisa mendapat hasil serupa, pada dasarnya berasal dari mindset seorang konsumen yang hendak membeli barang. Padahal proses RnD adalah hal yang sangat berbeda.
(Kok malah jadi makin serius ini ya tulisannya haha... gapapa deh lanjut dikit lagi)
Agar konteksnya lebih relevan, kita ambil contoh ke kasus kendaraan nasional aja deh.
Apakah Indonesia bisa membuat motor atau mobil nasional? Untuk sekarang, jawabannya jelas tidak.
Orang seringkali salah paham kalau membuat motor atau mobil nasional itu adalah tentang membuat mesin, membuat body, lalu kendaraannya jadi.
Padahal, yang diperlukan untuk membuat motor atau mobil nasional (bukan sekedar merakit seperti Mobil Maung kepresidenan ya) adalah sebuah ekosistem industri yang siap mendukung.
Untuk membuat motor nasional, itu artinya supply chain untuk semua komponennya harus siap terlebih dahulu. Harus ada pabrik yang fokus membuat rem cakram, ada pabrik yang fokus membuat ban, ada pabrik untuk suku cadang, ada pabrik untuk knalpot, dan lain-lain. Pabrik suku cadang artinya perlu pabrik yang membuat mesin CNC dan pabrik pengolahan logam. Dan seterusnya. Akan makin panjang jika didetailkan lagi.
Tanpa ekosistem supply chain tersebut, maka motor/mobil nasional akan hanya jadi sekedar proyek simbolis saja. Tidak akan bisa benar-benar produknya digunakan secara luas. Karena harga satu produknya menjadi sangat mahal (akibat penyuplai komponen-komponen yang sekarang digunakan pabrikan Jepang bisa tinggal menaikkan harga, toh tidak ada pilihan lain untuk negara kan).
Jadi alur yang benar adalah membangun industri pendukung terlebih dahulu, baru kemudian ke produk akhirnya. Bukan ujug-ujug langsung jadi produk.
Ini juga yang jadi alasan kenapa prototype mobil nasional yang pernah ada gagal untuk diwujudkan. Tentu saja itu bukan karena ulah elit global atau pemerintah tidak mendukung. Selain karena bahkan prototype nya yang memang masih perlu pengembangan, sistem supply chain nya juga tidak siap. Mau didukung kayak gimanapun kalo ekosistem supply chainnya tidak ada, maka ujung-ujungnya hanya akan jadi tempat rakit saja.
Makanya... kalau Indonesia pengen punya motor nasional original buatan Indonesia, salah satu entitas yang paling mungkin bisa membuat adalah Arumi. Supply chain komponen motoparts sudah berhasil dibangun, mesin CNC juga sudah dibuat from scratch (saya juga ikut bikin btw dan ada di paten nya), kenalpot sudah, molding plastic part sudah, velg sedang otw. Tinggal bikin mesinnya, lalu semuanya digabung, dan jadilah sebuah motor original buatan Indonesia.
Nah kan malah jadi kemana-mana ini pembahasannya ðŸ˜
Malah tambah keinget saya masih punya tanggungan untuk bikin video tentang CNC juga, yang belum dikerjain ðŸ˜ðŸ˜
Udah sih, kira-kira begitu saja. Setengah akhir tulisan ini ga penting, cuma sekedar tambahan saja.
Dan gatau juga sih, bisa jadi saya salah. Toh ini saya cuma ngarang.