Semakin hari, teknologi AI menjadi semakin canggih. Kecerdasannya makin meningkat, dan perkembangannya pun berubah dengan sangat cepat.

Dengan perkembangan yang begitu cepat, orang-orang berusaha untuk selalu update dengan model atau metode terbaru.

Itu hal yang bagus sebenarnya.

Tapi pada titik tertentu, that's actually enough.

Maksudnya, kita tidak harus berusaha menggunakan model AI terbaru, ataupun beradaptasi dengan metode AI baru.

  • Claude mengeluarkan Fable 5, langsung ganti workflow menggunakan Fable 5...
  • Google mengeluarkan aplikasi Antigravity, lalu pindah ke sana...
  • Dan seterusnya...

Apakah pola mengubah-ubah workflow ini hasilnya bagus?

Untuk saya pribadi, ternyata tidak.

Karena saya menyadari, bahwa bottleneck terbesarnya justru ada di manusianya. Bukan di sisi teknologi AI-nya.

Iya benar, Fable 5 kapasitasnya lebih tinggi daripada Sonnet dan Opus di Claude. Tapi, memangnya apa sih yang mau dibuat? Memangnya, sudah seberapa maksimal sih penggunaan model dasarnya? Memangnya, worth it kah membayar lebih untuk model cerdas, sementara yang dikerjakan cuma itu-itu saja.

Hal ini pun saya sadari ketika saya membaca tweet oleh @marclou di Twitter.

Dia ditanya oleh seseorang, "kenapa ga pakai sistem multi-agent AI di workflow pengembangan software mu?"

Dia menjawab: "No point running 4 agents in parallels, we’re the bottleneck anyway"

Jadi pelajarannya, daripada tidak fokus karena mengejar penggunaan sistem AI terbaru, lebih baik gunakan sistem yang ada untuk benar-benar menyelesaikan pekerjaan yang sedang dilakukan.

"You can build a startup with GPT-3." Kata @marclou lagi.

Lagi-lagi, ini poin yang sangat benar.

Keep updated terhadap perkembangan teknologi baru itu bagus, tapi jangan sampai semua perkembangan itu justru mengganggu tujuan utamanya: get things done.