Rasa-rasanya saya sudah bisa menentukan film terbaik versi saya sejauh ini.
Saya suka film-film bertema sains, jadi film yang saya sukai antara lain adalah Interstellar, The Imitation Game (Alan Turing), The Martian, The Man Who Knew Infinity (S. Ramanujan), dan sejenisnya. Jadi saya suka film bertema sains yang aspek sainsnya benar-benar menjadi bagian dari jalan cerita—bukan yang sekedar jadi bumbu saja.
Nah di antara film-film itu yang sudah saya tonton... film terbaik versi saya adalah Ford versus Ferrari (2019).
Eh?
Sebagian besar orang mungkin tidak akan menganggap kalau Ford v Ferrari adalah film bertema sains, melainkan film bertema otomotif. Tapi justru menurut saya, ini adalah film bertema sains yang saking nge-blend nya, orang menjadi tidak sadar.
Ini film terinspirasi kisah nyata btw, bukan kisah fiksi.
Memang tidak banyak rumus-rumus atau istilah sains yang dipakai, tapi Caroll Shelby jelas mempertimbangkan aspek aerodinamika ketika merancang mobil Ford GT40. Begitu juga dengan Ken Miles yang merasakan langsung bagaimana dorongan mesin berkorelasi dengan akselerasi. Bagaimana dia merasakan sisi depan mobil kurang berat karena center of mass mobil condong di belakang. Bagaimana tim Ford membuat mesin mobil dengan tenaga yang lebih kuat. Dan seterusnya.
Ini juga yang jadi alasan kenapa saya selalu mengadakan movie session menonton film ini di kelas Fisika dan Mekanika Teknik.
Mahasiswa-mahasiswa saya jelas ngga mashook kalau dijelaskan panjang lebar soal hukum Newton—maklum mereka anak vokasi yang lebih suka di workshop daripada menulis di kertas. Maka untuk memberi konteks tentang fisika, saya ajak mereka nonton film ini di kelas.
Dengan begini, setidaknya mereka jadi tahu kalau aspek-aspek fisika sangat penting untuk dipertimbangkan dalam proyek membuat mobil balap. Jadi mereka pun bisa paham bagaimana peran fisika sangat penting dalam setiap proyek engineering.
Film ini jugalah yang dulu membuat saya makin semangat lagi untuk belajar fisika lebih dalam dan mengaplikasikannya pada project-project yang sedang dikerjakan di DTECH. Rasanya kayak saya jadi Caroll Shelby nya, haha!
Pagi tadi di kelas saya menonton film ini lagi... dan ternyata mereka antusias.
Awalnya sih masih biasa-biasa saja, tapi di tengah ketika mulai ada scene balapan, mereka mulai fokus. Apalagi ketika sampai di bagian-bagian akhir, mereka makin fokus lagi. Beberapa orang bahkan sampai pindah duduk ke depan karena kepala temannya menutupi layar.
Dan bukan hanya mereka saja yang antusias... ternyata saya juga.
Awalnya saya berencana untuk sekedar memutarkan film untuk mereka dan menggunakan waktunya untuk ngerjain hal lain di tablet. Tapi ternyata dari awal sampai akhir, saya malah sangat fokus menonton.
Dan rasa seru dari menonton film ini ternyata masih sama.
Saya pertama kali nonton film ini di bioskop tahun 2019. Sempat menonton ulang sendiri di laptop. Juga mengajak mahasiswa nonton film ini di kelas dua kali (dua angkatan berbeda). Dan rasanya masih sama.
Film ini menarik bukan hanya karena isinya, tapi juga karena ada aspek personal tentang mobilnya. DTECH-ENGINEERING sendiri pernah dapat project untuk membuat chassis untuk replika mobil Ford GT-40 ini, jadi saya pun bisa memberi konteks tambahan itu.
Saya juga senang dengan bagaimana dedikasi yang dilakukan oleh Ken Miles dan Caroll Shelby sehingga bisa membuat mobil balap legendaris itu. Memang, butuh dedikasi dan fokus gila untuk bisa meraih hal luar biasa.